Laman

Sabtu, 20 November 2010

Perlakuan PHT Hama Thrips pavispinnus Karny Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai (Capsicum Annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, Karena buahnya selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani, sebagai bahan baku industri, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja serta sebagai sumber vitamin C. Luas tanaman dan produksi cabe di Irian Jaya pada tahun 1998 adalah 4.104 ha dengan produksi 8.565 ton/ ha.

Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya.

Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam, pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.

Penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.

Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabe. Untuk itu, bila kita mampu mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui sistem perlakuan PHT Hama Thrips parvispinus Karny pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L).

Kegunaan Penulisan

- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Tim Penulis Agromedia (2007) mengklasifikasikan tanaman Cabai (Capsicum Annum L) sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Solanales

Famili : Solanaceae

Genus : Capsicum

Species : Capsicum Annum L.

Akar cabai merupakan akar tunggang yang kuat dan bercabang – cabang ke samping membentuk akar serabut. Akar serabut cabai bisa menembus tanah sampai kedalaman 50 cm dan menyamping selebar 45 cm. Pada akar, terdapat rambut – rambuta akar yang merupakan perluasan dari sel – sel epidermis akar. Akar sebagai tempat masuknya mineral dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan.

Tanaman cabai berbentu semak, batangnya berkayu. Tipe percabanganya tegak dan menyebar dengan tajuk yang berbeda-beda tergantung pada varietasnya. Tinggi tanaman cabai mencapai 100-120 cm dengan lebar tajuk cabangnya bisa 100 cm. Batang tanaman pada saat muda berwarna kehijauan dengan ruas berwarna hijau dan mudah patah.

Daun cabai merupakan daun tunggal dengan helai berbentuk ovote, muncul di tunas-tunas samping yang tumbuh berurutan di batang utama. Daun cabai tersusun spiral umumnya berwarna hijau. Pada tangkai daun terdapat bagian yang menempel pada batang yang disebut tangkai daun. Bentuk daun lonjong sampai bulat dengan ujung meruncing.

Bunga cabai bersifat tunggal dan tumbuh di ujung ruas tunas. Mahkota berwarna putih atau ungu tergantung pada varietasnya. Alat kelamin jantan dan betina terletak di satu bunga, sehingga termasuk bunga sempura atau hermaprodit. Sebagian bunga cabai menyerbuk sendiri, tetapi mudah juga dilakukan persilangan.

Ukuran buah cabai beragam, dari pendek sampai panjang dengan ujung runcing atau tumpul. Bentuk buah umumnya bulat memanjan. Buah cabai memiliki rongga dengan jumlah berbeda-beda sesuai dengan varietasnya. Di dalam buahterdapat plasenta tempat biji melekat. Daging buah cabai umumnya renyah dan kadang-kadang lunak.

Biji cabai terletak di dalam biah, melekat sepanjang plasenta. Warnanya putih atau kuning jerami dan memiliki lapisan kulit keras di bagian luarnya. Bobot biji cabai yang telah kering rata-rata 120 butir/gr. Biji inilah yang digunakan sebagai benih untuk menghasilkan tanaman baru.

Syarat Tumbuh

Tanah

Pertumbuhan tanaman cabai akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai draenasi yang baik, tanah gembur, subur, dan permeabilitas sedang. Tanah yang baik bagi pertumbuhan harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah dan hara tambahan.

Tanaman cabai dapat tumbuh optimal pada tanah dengan pH 5,5 - 6,8. Namun, tanaman cabai masih toleran pada derajat keasaman hingga dengan pH 5 – 7. Bila pH lahan pertanaman itu rendah sehingga tidak sesuai dengan syarat tumbuh maka nilai pH-nya dapat ditingkatkan dengan melakukan pengapuran. Sebaliknya, bila pH lahan pertanaman itu tinggi, maka nilai pH-nya dapat diturunkan dengan meambahkan belerang pada tanah.

Cabai tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah hingga dataran tinggi sampai 1400 m dpl. Namun, di dataran tinggi pertumbuhannya lebih lambat dan umur panennya lebih lama dibadingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.

Iklim

Suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan cabai, dari saat pembibitan sampai saat produktif. Selama periode perkecambahan memerlukan suhu 20 – 24 oC. Di atas nilai itu, proses perkecambahan akan berlangsung lambat. Pada masa pertumbuhan memerlukan suhu 27 – 30 OC pada siang hari dan 18 – 25 oC pada malam hari.

Curah hujan tinggi tidak terlalu baik untuk cabai karena menyebabkan kerontokan bakal bunga serta membuat bunga dan buah tumbuh kecil. Selain itu, kelembaban yang tinggi akan merangsang perkembangan jamur yang berpotensi mengundang penyakit. Curah hujan yang cocok adalah sebesar 600 – 1250 mm dan tersebar merata disepanjang masa pertumbuhannya.

Cabai membutuhkan iklim kering dengan lama penyinaran 12 jam per hari, terutama pada masa pembungaan dan pembuahan. Untuk itu, sebaiknya cabai ditanam pada awal musim kemarau. Namun, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, karna harga jualnya melonjak, cabai dapat ditanam pada musim hujan.


Hama Gurem (Thrips parvispinus Karny)

Menurut http://anic.ento.csiro.au (2010) Hama Gurem atau Thrips dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Thysanoptera

Famili : Thripidae

Genus : Thrips

Spesies : Thrips parvispinus Karny

Thrips mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :

1. Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwaran kuning cokelat kehitam – hitaman.

2. Hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis)

3. Telur berbentuk oval atau seperti ginjal, diletakkan di dalam jaringan daun.

4. Nimfa beerwarna putih dan sangat aktif, terdiri atas dua instar, yang diikuti dengan periode pre pupa dan kemudian pupa.

5. Pupa dibentuk di dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa.

6. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan berkembang pesat populasinya pada musim kering (kemarau).

Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan sama sekali. Larva yang tidak makan ini akan meninggalkan tanaman dan pergi bersembunyi ke dalam tanah sehingga muncul instar tiga (stadia prepupa), 1-2 hari kemudian menjadi instar keempat. Setelah 2-3 hari, larva tersebut muncul sayap dan kembali makan.

Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.

Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih
dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan
jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.

Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung,
biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips
instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya
meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan
jerami di bawah kanopi tanaman.

Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2
pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap
bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9
mm, trips jantan lebih pendek.

Dalam satu tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau,
perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20
hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat
cepat.

Gejala serangan yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut :

1. Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips.

2. Selanjutnya, noda – noda keperak – perakan berubah menjadi cokelat tembaga.

3. Serangan berat dapat menyebabkan daun – daun mengeriting ke atas.


PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT)

Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam, pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.

Penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.

Memang dalam pengendalian OPT secara konsep PHT tidak langsung menampakkan hasil yang nyata tetapi memerlukan waktu yang relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak seperti halnya pada pengendalian hama secara kimiawi yang langsung dapat terlihat dampaknya terhadap jasad pengganggu.

Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat.

Dalam hal ini pengendalian hama thrips, dapat dilakukan dengan menempuh cara sebagai berikut :

1. Secara kultur teknis, dengan mempraktekkan penyiapan bedengan bermulsa plastik hitam perak, mengatur pergiliran (rotasi) tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang baik (tepat).

2. Secara biologi (hayati) dengan memanfaatkan musuh – musuh alami hama thrips, yaitu kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae, dan kumbang Staphulinidae.

3. Memasang perangkap perekat hama, misalnya dengan menggunakan Insect Adhesif Trap Paper (IATP) berwarna kuning.

4. Monitoring hama untuk menentukan Ambang Kendali. Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10 nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 %, perlu dilakukan penyemprotan insektisida.

5. Secara kimawi, dengan penyemprotan insektisida secara selektif, misalnya Mesurol 50 WP, Pegasusu 500 SC atau Perfekthion 400 EC, pada waktu sore hari.


KESIMPULAN


1. Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya.

2. Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan sama sekali. Larva yang tidak makan ini akan meninggalkan tanaman dan pergi bersembunyi ke dalam tanah sehingga muncul instar tiga (stadia prepupa), 1-2 hari kemudian menjadi instar keempat. Setelah 2-3 hari, larva tersebut muncul sayap dan kembali makan.

3. Gejala serangan yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut : (a) Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips. (b) Selanjutnya, noda – noda keperak – perakan berubah menjadi cokelat tembaga, dan (c) Serangan berat dapat menyebabkan daun – daun mengeriting ke atas.

4. Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat.

5. Memang dalam pengendalian OPT secara konsep PHT tidak langsung menampakkan hasil yang nyata tetapi memerlukan waktu yang relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak seperti halnya pada pengendalian hama secara kimiawi yang langsung dapat terlihat dampaknya terhadap jasad pengganggu.

TINJAUAN PUSTAKA

BPP. 2000. Panduan PHT kakao. Bagian Proyek PHT-PR/ IPM-SECP Pusat. Jakarta.


http://anic.ento.csiro.au/ diambil pada tanggal 20 Sept.2010.

http://www.scribd.com/ pada tanggal 20 Sept.2010.

Redaksi Agromedia. 2007. Budidaya Cabai Merah pada Musim Hujan. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta

Rukmana, R.H. 2004. Usaha Tani Cabai Rawit. Kanisius. Jakarta

Sumarni, N dan Agus, M. 2008. Sukses Bertanam Cabai Di Musim Hujan dan Kemarau. Penerbit Papas Sinar Sinanti. Jakarta.

Tim Bina Karya Tani. 2008. Pedoman Bertanam Cabai. Yrama Widya. Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar